KARANGASEM – Setiap hari, ribuan canang sari menghiasi pelataran Pura Agung Besakih, “Pura Ibu”-nya Pulau Dewata. Namun di balik keindahan dan kesakralannya, tersimpan persoalan yang jarang dibicarakan: tumpukan sampah organik sisa persembahyangan yang terus menggunung. Kini, sekelompok pemuda adat di kaki Gunung Agung memilih untuk tidak tinggal diam.
Pada Minggu, 31 Mei 2026, Yayasan Rare Semesta menggelar “Pelatihan Pembuatan Kompos Sampah Canang pada Komunitas Pemuda Adat (Sekaa Teruna) di Lingkungan Pura Agung Besakih” di Natah Edukasi Rare Semesta, Banjar Dinas Besakih Kawan, Desa Besakih, Kecamatan Rendang. Kegiatan ini menyasar generasi muda adat, para perwakilan Sekaa Teruna yang diharapkan menjadi garda terdepan menjaga kelestarian kawasan suci sekaligus bumi pertiwi.
Sampah Sakral yang Terlupakan
Canang sari, persembahan harian umat Hindu Bali yang terbuat dari janur, bunga, dan dedaunan, menghasilkan volume sampah organik yang luar biasa besar terlebih di pura sebesar Besakih yang menjadi pusat peribadatan jutaan umat. Selama ini, sebagian besar sisa canang berakhir tercampur dengan sampah lain tanpa pengelolaan memadai.
Melalui pelatihan ini, peserta diajak mengubah paradigma: sisa persembahan bukanlah sekadar limbah, melainkan sumber daya yang dapat dikembalikan ke tanah dalam bentuk kompos. Sebuah filosofi yang sejatinya selaras dengan ajaran Tri Hita Karana, menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.
Mengusung Semangat Ekoteologi
Rangkaian acara dibuka dengan sambutan dari perwakilan Tim Pelaksana, Bidan Luh Putu Okta Kusumadewi, S.Tr.Keb., M.Pd., disusul sambutan Kelihan Banjar Adat Besakih Kawan, I Nengah Darta dan Kelihan Banjar Dinas Besakih Kawan, I Made Yadnya, kegiatan dibuka langsung Kelihan Desa Adat Besakih Jro Mangku Widiartha.
Sesi inti menghadirkan paparan panel bertema ekoteologi – sebuah pendekatan yang memadukan spiritualitas dan kepedulian lingkungan. Prof. Dr. Gusti Ngurah Ketut Putera, S.Ag., M.Pd. mengupas relevansi manajemen pendidikan Hindu dalam penguatan ekoteologi bagi generasi muda, sementara Dr. I Wayan Agus Gunada, S.Pd.H., M.Pd. mengangkat gagasan “Menjaga Pura Agung Besakih, Menjaga Bumi Pertiwi.”
Peserta juga mendapatkan pendampingan teknis pengelolaan sampah berbasis masyarakat dari Dewa Ayu Agustini Posmaningsih, SKM., M.Kes. bersama Tim Poltekkes Kemenkes Denpasar, serta praktik langsung pengelolaan sampah organik dan pemanfaatan herbal melalui pendekatan etnomikia lingkungan yang dipandu Dr. I Wayan Karta, M.Si.
Bagian dari Misi Iklim Indonesia
Yang membuat kegiatan kecil di lereng Gunung Agung ini bermakna besar adalah konteks di baliknya. Pelatihan ini merupakan bagian dari Layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan (Small Grant) Periode Keempat, dengan Yayasan Rare Semesta sebagai salah satu penerima manfaat pada kategori FOLU Terra.
Program ini didanai melalui Project Director FOLU Net Sink 2030 dengan dukungan sumber dana kerja sama Indonesia–Norwegia Tahap Keempat (FOLU-NC4). Skema ini bersumber dari kontribusi berbasis hasil (Result-Based Contribution) Pemerintah Norwegia atas capaian Indonesia dalam menurunkan emisi sektor kehutanan dan penggunaan lahan.
FOLU Net Sink 2030 sendiri adalah komitmen ambisius Indonesia agar sektor kehutanan dan penggunaan lahan (Forestry and Other Land Use) menjadi penyerap karbon bersih (“net sink”) pada 2030. Rencana operasionalnya menargetkan sektor ini menyerap lebih dari 140 juta ton CO2 menjelang akhir dekade melalui pengurangan deforestasi serta restorasi hutan, gambut, dan mangrove. Dana program disalurkan oleh Kementerian Kehutanan melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH).
Antusiasme masyarakat terhadap skema ini tidak main-main. Hingga tiga periode pelaksanaan, program ini telah menyalurkan dana sebesar Rp19,31 miliar kepada 561 kelompok masyarakat, dengan total 31.512 penerima manfaat yang tersebar di 36 provinsi. Pada Periode Keempat, masyarakat dapat memilih satu dari tiga tema utama: FOLU Goes to School yang berfokus pada pelibatan generasi muda; FOLU Terra yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan berbasis lingkungan; dan FOLU Biodiversity yang mendukung pelestarian keanekaragaman hayati.
Aksi Kecil, Dampak Besar
Pelatihan di Besakih membuktikan bahwa aksi iklim tak selalu lahir dari ruang sidang internasional, tetapi juga bisa tumbuh dari natah (halaman) sebuah desa adat dari tangan-tangan muda yang belajar mengompos sisa canang.
Ketua Tim Pelaksana, Putu Gede Asnawa Dikta, S.Pd., M.Pd., bersama jajaran Yayasan Rare Semesta berharap pelatihan ini menjadi titik awal gerakan pengelolaan sampah berbasis adat yang berkelanjutan di kawasan Pura Agung Besakih, sekaligus model yang dapat direplikasi di pura-pura lain di seluruh Bali.
Dari sisa persembahan kepada Sang Pencipta, kini lahir persembahan baru untuk bumi.(*)

